Dalam psikologi karier, bahasa tubuh adalah bentuk komunikasi nonverbal yang sering kali lebih jujur daripada ucapan. Sikap tubuh, ekspresi wajah, dan kontak mata dapat menunjukkan tingkat kepercayaan diri, kesiapan, serta kondisi emosional kandidat saat wawancara.
Secara psikologis, kesan pertama terbentuk sangat cepat. Dalam hitungan menit, bahkan detik, persepsi awal sudah terbentuk dan cenderung melekat. Kata-kata yang sopan akan terasa kurang meyakinkan jika tidak sejalan dengan bahasa tubuh. Sebaliknya, sikap tubuh yang tepat bisa memperkuat pesan dan meningkatkan kepercayaan pewawancara terhadap kandidat. Berikut merupakan bahasa tubuh yang perlu diperhatikan:
1. Mengelola Diri Sebelum Wawancara
Datang tepat waktu atau lebih awal membantu tubuh dan pikiran masuk ke kondisi yang lebih tenang. Dalam psikologi, kondisi ini disebut self-regulation, yaitu kemampuan mengatur emosi agar tetap stabil. Saat menunggu, usahakan duduk dengan rapi, tarik napas perlahan, dan hindari menunjukkan ekspresi bosan atau gelisah. Tubuh yang rileks akan membantu pikiran bekerja lebih fokus.
2. Etika Masuk Ruangan: Kamu Sudah Dinilai Sejak Awal
Dalam Konteks psikologi sosial, setiap interaksi kecil membentuk persepsi. Mulai dari menyapa resepsionis, mengisi daftar hadir, sampai cara kamu berjalan dan tersenyum semuanya diamati. Sikap ramah dan sopan menunjukkan social awareness, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja.
Saat bertemu dengan pewawancara, jabat tangan dengan mantab dan seimbang. Jabat tangan yang pas mencerminkan diri kontrol. Mengingat nama orang yang baru dikenal juga menunjukkan perhatian dan respek, dua hal yang dinilai positif dalam dunia kerja.
3. Sikap Tubuh Saat Wawancara: Baca Pesan dari Tubuhmu Sendiri
Posisi duduk yang terlalu merosot bisa memberi kesan kurang siap atau tidak berdaya, meskipun itu bukan niatmu. Dari sudut pandang psikologi, postur tubuh memengaruhi cara orang lain menilai kompetensi dan motivasi. Duduk tegak, sedikit condong ke depan, dengan bahu rileks menunjukkan sikap terbuka dan tertarik.
Posisi tangan juga penting. Tangan yang disilangkan atau menggenggam terlalu kuat sering diasosiasikan dengan sikap defensif. Sebaliknya, tangan yang diletakkan secara natural membantu menciptakan kesan nyaman dan terbuka. Gerakan tangan boleh digunakan untuk memperjelas penjelasan, asal tidak berlebihan.
Kebiasaan kecil seperti memainkan pulpen, mengetuk meja, atau menggerakkan kaki biasanya muncul saat seseorang cemas atau jenuh. Dalam psikologi, ini disebut nervous habits. Walaupun terlihat sepele, kebiasaan ini bisa mengganggu fokus pewawancara dan memberi sinyal bahwa kamu kurang nyaman.
4. Kontak Mata dan Pengelolaan Gugup
Kontak mata adalah bentuk komunikasi nonverbal yang menunjukkan keterlibatan dan kepercayaan diri. Menghindari tatapan mata sering diasosiasikan dengan rasa tidak aman atau kurang yakin. Jika merasa grogi, kamu bisa mengarahkan pandangan ke area dahi di antara alis pewawancara agar tetap terlihat fokus tanpa merasa terintimidasi.
Sedikit gugup itu wajar. Dalam psikologi karier, gugup ringan justru menunjukkan adanya motivasi dan kepedulian terhadap hasil. Yang perlu dijaga adalah agar rasa gugup tidak mengganggu konsentrasi. Fokuslah mendengarkan dengan “seluruh tubuh”, bukan hanya telinga, dan hadir sepenuhnya dalam percakapan.
5. Menutup Wawancara dengan Kesan Positif
Cara mengakhiri wawancara sama pentingnya dengan cara memulainya. Tetap jaga sikap tubuh yang tenang, tidak terburu-buru, dan tidak terlihat lega berlebihan. Jabat tangan pewawancara, ucapkan terima kasih, dan tersenyumlah dengan tulus.
Dalam psikologi, kesan terakhir disebut recency effect, yaitu hal terakhir yang dilihat dan diingat akan lebih melekat. Jadi, pastikan sikap terakhir yang kamu tampilkan mencerminkan profesionalisme, kepercayaan diri, dan kesiapan untuk berkontribusi.
Rasa gugup ringan adalah hal yang normal dan menandakan adanya motivasi. Namun, penting untuk tetap mengelola emosi agar tidak mengganggu konsentrasi. Menutup wawancara dengan sikap tenang, senyum, dan ucapan terima kasih akan meninggalkan kesan akhir yang positif dan profesional.
Penulis : Miandary Rahayu Agista, S.Psi

Leave A Comment